Riset: Apa yang Membuat Harga Saham & Crypto Naik atau Turun?

Catatan belajar untuk sistem Sinyal Saham. Ini bukan rekomendasi investasi.

1. Prinsip dasar

Harga bergerak karena permintaan (beli) vs penawaran (jual). Yang membuat orang ingin membeli atau menjual adalah ekspektasi masa depan, bukan kondisi hari ini. Karena itu harga saham bisa turun padahal laba perusahaan naik: pasar ternyata berharap lebih.

Faktor penggerak harga bisa dikelompokkan menjadi lima:

Kelompok Pertanyaan yang dijawab Jangka waktu pengaruh
Fundamental Apakah perusahaannya bagus & harganya wajar? Bulanan–tahunan
Makro ekonomi Apakah kondisi ekonomi mendukung? Mingguan–tahunan
Aliran dana & sentimen Siapa yang sedang beli/jual & kenapa? Harian–bulanan
Teknikal Bagaimana perilaku harga & volume? Harian–bulanan
Aksi korporasi & kalender Ada dividen, stock split, rebalancing indeks? Harian–mingguan

2. Faktor fundamental

Valuasi (apakah harganya murah atau mahal?)

Rasio Rumus Cara baca
PER (Price to Earnings) Harga ÷ laba per saham Berapa tahun laba untuk "balik modal". Makin kecil makin murah. Bandingkan dengan sejarah saham itu sendiri & sektor sejenis.
PBV (Price to Book Value) Harga ÷ nilai buku per saham < 1 = dijual di bawah nilai aset bersihnya. Bank berkualitas (seperti BBCA) biasa diperdagangkan dengan PBV tinggi.
ROE (Return on Equity) Laba bersih ÷ ekuitas Seberapa efisien modal menghasilkan laba. > 15% tergolong sangat baik.
Dividend Yield Dividen setahun ÷ harga Penghasilan tunai. Saham bank BUMN dikenal rutin membagi dividen besar.

Khusus saham bank (BBRI, BBCA, BMRI, BBNI)

Laporan keuangan resmi dirilis per kuartal di idx.co.id dan situs investor relations tiap bank.


3. Faktor makro ekonomi

Faktor Dampak umum ke saham Kenapa
BI Rate naik Negatif (umumnya) Bunga deposito lebih menarik, biaya pinjaman naik, valuasi saham turun. Untuk bank efeknya campuran (NIM bisa melebar tapi kredit melambat & NPL naik).
Inflasi tinggi Negatif Daya beli turun, BI cenderung menaikkan suku bunga.
Rupiah melemah tajam Negatif Investor asing merugi saat konversi ke dolar, sehingga cenderung keluar dari saham big caps (termasuk bank).
Pertumbuhan ekonomi (PDB) Positif Kredit, konsumsi, dan laba perusahaan tumbuh.
Suku bunga The Fed / dolar AS kuat Negatif untuk emerging market Dana global pulang ke aset dolar.
Harga komoditas Tergantung sektor Batu bara/CPO/nikel naik: positif untuk emiten tambang/perkebunan dan ekonomi RI.

Sumber data: bi.go.id (BI Rate, kurs), bps.go.id (inflasi, PDB).


4. Aliran dana & sentimen

5. Aksi korporasi & kalender


6. Analisis teknikal (yang dipakai sistem ini)

Analisis teknikal berasumsi bahwa perilaku harga & volume mencerminkan psikologi pasar dan cenderung berulang.

Indikator Cara hitung (singkat) Arti Kelemahan
MA50 / MA200 Rata-rata harga 50/200 hari Harga > MA200 = tren naik. MA50 memotong MA200 ke atas = golden cross. Terlambat: sinyal muncul setelah tren berjalan.
MACD (12,26,9) Selisih EMA 12 & 26 vs garis sinyal EMA 9 Di atas garis sinyal = momentum naik. Banyak sinyal palsu saat pasar sideways.
RSI 14 Rasio rata-rata kenaikan vs penurunan < 30 jenuh jual (potensi pantul), > 70 jenuh beli. Di tren kuat, RSI bisa tertahan di zona ekstrem lama sekali.
Bollinger Bands (20,2) MA20 ± 2 standar deviasi Harga di luar pita = ekstrem secara statistik. Tembus pita bisa berarti awal tren, bukan pembalikan.
Volume Volume hari ini vs rata-rata 20 hari Lonjakan volume memvalidasi pergerakan harga. Volume IDX bisa dipengaruhi transaksi crossing (nego).

7. Khusus crypto (Bitcoin di Binance)

Bitcoin tidak punya laba, dividen, atau laporan keuangan, jadi faktor fundamental saham tidak berlaku. Penggeraknya:

Sistem ini hanya memakai faktor teknikal untuk crypto (tanpa faktor IHSG & fundamental).


8. Cara kerja sistem Sinyal Saham

Yahoo Finance ──► engine Python ──► MySQL ──► Web Laravel (dashboard + admin)
                  1. unduh harga 5 th + IHSG + fundamental
                  2. hitung indikator
                  3. beri skor tiap faktor (-1 s/d +1) x bobot
                  4. skor total ──► BUY / HOLD / SELL
                  5. backtest: bandingkan dengan beli & simpan
Faktor Nilai +1 (bullish) Nilai −1 (bearish) Bobot awal
Tren Harga > MA200 dan MA50 > MA200 Keduanya di bawah 1
Momentum MACD > garis sinyal MACD < garis sinyal 1
RSI RSI < 30 RSI > 70 1
Bollinger Harga < pita bawah Harga > pita atas 0,5
Volume Volume > 1,5× rata-rata & harga naik ... & harga turun 0,5
Pasar (IHSG) IHSG > MA200 IHSG < MA200 1
Fundamental PER murah, PBV rendah, ROE tinggi, dividen tinggi Kebalikannya 1
Konsensus analis Rata-rata rekomendasi ≤ 2 (Buy) & target ≥ +15% Rekomendasi Sell / target di bawah harga 1

Saham: BUY jika skor ≥ 2,5 · SELL jika skor ≤ −1 · selain itu HOLD. Crypto: BUY jika skor ≥ 1 · SELL jika skor ≤ −1,5 (lihat bagian 9b). Semua angka bisa diubah di admin panel.

Yang TIDAK dipakai (karena datanya tidak tersedia gratis dan otomatis): net foreign flow, berita, data makro (BI Rate/inflasi), laporan keuangan historis, dan kalender dividen. Faktor-faktor ini tetap penting, jadi cek sendiri secara manual sebelum mengambil keputusan.


9a. Analis bilang BUY, sistem teknikal bilang SELL. Mana yang benar? (riset 13 September 2026)

Contoh nyata BBRI dan BBCA di pertengahan September 2026:

Sinyal teknikal Konsensus analis (Yahoo Finance) Harga 11 Sep 2026
BBRI SELL (skor teknikal −2) Buy, 22 analis, target rata-rata Rp3.764 (+15%), rentang Rp2.860–4.900 Rp3.270
BBCA SELL (skor teknikal −3,5) Strong Buy, 25 analis, target rata-rata Rp8.220 (+30%) Rp6.325

Kenapa analis merekomendasikan beli BBRI?

Kenapa harganya tetap tertekan?

Kesimpulan: keduanya bisa benar sekaligus, karena menjawab pertanyaan berbeda.

Analis (fundamental) Sinyal teknikal
Pertanyaan Apakah perusahaannya bagus & harganya murah? Apakah harganya sudah berhenti turun?
Horizon 6–12 bulan Harian–mingguan
Kelemahan Bisa terlalu optimis. BBCA diberi "Strong Buy" sepanjang jalan turun dari Rp8.750 ke Rp6.325 Terlambat & sering salah saat pasar sideways

Cara yang umum dipakai: fundamental untuk memilih APA yang dibeli, teknikal untuk memilih KAPAN membeli. Untuk pemula yang belum punya saham, pilihannya antara lain:

  1. Menunggu konfirmasi: beli setelah harga kembali di atas MA200 dan momentum membaik. Risikonya, harga beli lebih mahal.
  2. Mencicil (DCA): beli sedikit-sedikit secara rutin, mis. tiap bulan, tanpa menebak titik terendah. Risikonya, harga masih bisa turun dulu.
  3. Tidak ikut: sah-sah saja kalau belum yakin atau belum paham.

Yang perlu dihindari: membeli sekaligus seluruh modal hanya karena "kata analis murah" atau "lagi ramai".

Sistem ini sekarang memasukkan konsensus analis sebagai faktor tersendiri (bobot bisa diatur atau dimatikan di admin), sehingga BBRI berubah dari SELL menjadi HOLD, sedangkan BBCA tetap SELL karena tekanan teknikalnya sangat kuat.

Sumber lain: Ajaib, Pluang, Investing.com konsensus BBRI, IFCNews, Receh.in, CNBC: asing borong saham bank.


9. Hasil riset backtest (data per 13 September 2026)

Pengujian memakai 7 aset (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, ASII, BTC), 5 tahun, sudah termasuk fee beli 0,15%, fee jual 0,25% (saham), dan 0,1% (crypto). Data dibagi dua periode untuk menguji konsistensi.

Strategi Periode 1 (Sep 2021–Mar 2024) Periode 2 (Mar 2024–Sep 2026)
Ikuti tren saja (MA200) +52,6% −19,8%
Tren + momentum + IHSG +51,6% −22,8%
Semua faktor, batas ±1,5 +46,8% −16,9%
Semua faktor, batas ±2 +42,3% −16,2%
Beli saat koreksi di tren naik +29,1% −3,9%
Pengaturan default sistem +24,2% −11,5%
Mean-reversion (RSI + Bollinger) +22,0% +13,7%
Beli & simpan (pembanding) +76,7% −14,8%

Angka akan berubah setiap data diperbarui. Jalankan Bandingkan Strategi di admin panel untuk versi terbaru.

Pelajaran penting

  1. Tidak ada strategi yang selalu menang. Juara periode 1 (ikuti tren) jatuh ke peringkat 6 di periode 2. Juru kunci periode 1 (mean-reversion) justru juara di periode 2. Strategi ikut tren unggul saat pasar naik, sedangkan strategi beli-saat-murah unggul saat pasar turun atau sideways.
  2. Beli & simpan saham berkualitas itu sulit dikalahkan saat pasar naik. Kelebihan sistem sinyal ada di mengurangi kerugian terdalam (drawdown) karena modal tidak selalu berada di pasar.
  3. Overfitting adalah jebakan terbesar. Mengutak-atik angka sampai backtest terlihat hebat hampir pasti gagal di masa depan. Selalu uji di periode yang tidak dipakai untuk memilih.
  4. Sinyal bukan ramalan. Anggap sebagai checklist yang membantu disiplin, bukan perintah beli/jual.

9b. Batas sinyal khusus crypto & DCA (riset 14 September 2026)

Masalah yang ditemukan: awalnya crypto memakai batas BUY yang sama dengan saham (2,5). Padahal crypto hanya punya 5 faktor teknikal (tanpa IHSG, fundamental, analis), sehingga skor maksimalnya cuma 4. Akibatnya BTC hanya mendapat sinyal BUY 8 hari dalam 3,5 tahun, dan BUY terakhir (Januari 2025) justru muncul di harga ±$102.000.

Kenapa BUY Januari 2025 muncul di dekat puncak? Bukan salah hitung. Pada 20 Jan 2025 BTC sudah naik dari $57.000 (Sep 2024) ke $102.000: harga jauh di atas MA200 (+1), momentum naik (+1), volume 2,4× rata-rata (+1), skor 2,5 → BUY. Indikator tren selalu terlambat: ia mengonfirmasi kenaikan setelah terjadi dan tidak bisa melihat puncak. Sistem lama lalu menjual di $80.597 (−21,2%).

Cara memilih batas baru (aturan ditetapkan sebelum melihat hasil): 16 kombinasi batas diuji di 5 crypto (BTC, ETH, BNB, SOL, XRP), dipilih dari Periode 1 saja, lalu diuji di Periode 2.

Batas crypto Periode 1 (Sep 2021–Mar 2024) Periode 2 (Mar 2024–Sep 2026) Transaksi/aset
BUY ≥ 1 / SELL ≤ −1,5 (dipakai) +86,7% +13,7% 4–5
BUY ≥ 2,5 / SELL ≤ −1 (lama) +16,8% +40,0% 1,6 (terlalu jarang, banyak faktor kebetulan)
Beli & simpan +16,3% +10,1% -
DCA mingguan +161,5% +0,3% (sempat −34%) -

Khusus BTC (5 tahun, hanya info tambahan, tidak dipakai untuk memilih): batas baru +175% dengan penurunan terdalam −33,8%, sedangkan beli & simpan +71,7% dengan penurunan terdalam −76,6%. Batas baru membeli di $66.050 (Okt 2024) alih-alih $102.000, tapi tetap pernah salah (beli $111.679 Mei 2025, jual $99.695). Tidak ada batas yang sempurna.

Pelajaran DCA: hasil DCA sangat bergantung pada fase pasar. DCA yang dimulai saat pasar turun (2022) memberi hasil besar. DCA yang dimulai saat harga tinggi (2024–2025) hampir impas setelah 2,5 tahun dan sempat rugi dalam. DCA mengurangi risiko salah waktu masuk, tapi bukan jaminan untung dan butuh kesabaran jangka panjang. Menu Rencana DCA di admin membantu disiplin menjalankannya. Uji ulang kapan saja lewat script Uji Batas Sinyal Crypto di Script Runner.


9c. Simulasi sinyal / paper trading (mulai 14 September 2026)

Tujuan: menguji apakah mengikuti sinyal sistem benar-benar menguntungkan, tanpa uang sungguhan. Aturan: setiap sinyal berubah menjadi BUY → beli pura-pura $100 (crypto) atau ±Rp1,76 juta dibulatkan per lot (saham). BUY baru saat masih memegang posisi → tambah lot. SELL → semua lot aset itu dijual. Fee sudah dihitung. Diuji di 10 aset utama + 46 koin tambahan (Top 50 Binance berdasarkan volume 30 hari).

Hasil historis (±5 tahun sebelum 14 Sep 2026):

Lot Win rate Hasil total Modal maksimal bersamaan Hasil vs modal maksimal
Crypto (56 koin) 2.049 × $100 25,6% +$13.700 $43.700 +31,4%
Saham IDX (6 saham) 240 lot 32,5% −Rp6,3 juta Rp99,7 juta −6,3%

Cara membaca:


9d. Uji keandalan: berapa margin error sistem? (14 September 2026)

Dijalankan lewat script Uji Keandalan Sistem (engine/evaluate.py). Rentang = interval kepercayaan 95%.

Crypto Saham IDX
Sinyal BUY yang harganya turun setelah 30 hari 54,8% (52,6–57,0%, n=1.961) 47,9% (41,7–54,2%, n=240)
Kalau beli di hari acak 57,4% 48,4%
Rata-rata return 30 hari: BUY vs acak +5,4% vs +1,7% −0,3% vs +0,4%
Siklus simulasi yang rugi 84,5% (80,7–87,6%, n=412) 75,0% (61,8–84,8%, n=52)

Kesimpulan:


9e. Simulasi futures: apakah sinyal kita cocok untuk leverage? (14 September 2026)

Aturan: margin $100/posisi, 1 posisi per koin. Long saja (BUY buka long, SELL tutup) atau long + short (SELL buka short). Fee 0,05% saat buka & tutup, funding rate asli Binance, likuidasi dicek dari harga harian. Uji bangkrut: modal $570 (±Rp10 juta) dipakai bergantian untuk semua koin. 48 koin, ±5 tahun.

Mode Leverage Posisi menang Kena likuidasi Bersih (modal tak terbatas) Uji bangkrut $570
Long saja 1x 23% 0% +$379 ✅ $719 (+26%), sempat $268
Long saja 2x 23% 9% −$720 ❌ bangkrut Sep 2022
Long saja 3x 22% 21% −$1.393 ❌ bangkrut Jun 2022
Long saja 5x 19% 46% −$2.167 ❌ bangkrut Mei 2022
Long saja 10x 13% 76% +$2.925 ❌ bangkrut Mei 2022
Long saja 20x 6% 93% +$17.188 ❌ bangkrut Mei 2022
Long + short 1x 31% 2% −$200 ✅ $633 (+11%)
Long + short 2x 30% 11% −$2.409 ✅ $949, sempat $343
Long + short 3x 29% 22% −$3.991 ✅ $1.361, sempat $171
Long + short 5x–20x 9–24% 46–90% negatif ❌ bangkrut Mar–Jun 2022

Kesimpulan:


9f. Model driver per saham: satu saham, faktor sendiri (15 September 2026)

Pertanyaan: sistem standar memakai aturan yang sama (ikuti tren) untuk semua saham, dan untuk saham IDX hasilnya kalah dari beli & simpan. Bisakah tiap saham punya "driver" sendiri?

Riset awal (data 10 tahun, 26 calon driver + 5 driver acak sebagai pembanding): saham bank besar IDX ternyata cenderung berbalik arah (mean-reverting). Makin jauh harga di atas MA200 atau makin dekat ke puncak 1 tahun, return 20 hari berikutnya justru cenderung lebih kecil. Ini kebalikan dari logika sistem tren, dan menjelaskan kenapa sistem standar lemah di saham IDX. BBRI juga tertekan saat dolar AS (DXY) menguat.

Cara kerja model (engine/drivers.py):

  1. Calon driver: momentum & jarak dari MA, RSI, Bollinger, volatilitas, volume, jarak dari puncak 1 tahun, IHSG, saham sejenis (bank lain; untuk ANTM: MDKA, INCO, TINS), kurs USD/IDR, DXY, yield AS 10 tahun, S&P 500, EEM, minyak, emas, perak, tembaga, GDX, perkiraan musim dividen, bulan Desember. Data AS & komoditas memakai angka kemarin, karena pasar itu tutup setelah bursa IDX.
  2. Setiap 15 September, driver dipilih hanya dari data 5 tahun sebelumnya (jeda 40 hari): korelasi peringkat (IC) dengan return 20 hari ke depan ≥ 0,10 dan searah di paruh pertama & kedua (≥ 0,05). Diambil 5 terkuat.
  3. Skor z = jumlah nilai driver yang dibakukan × arah IC. Setiap 5 hari bursa: z > 0 → BUY (pegang), selain itu SELL.

Uji berulang 5 tahun (engine/driver_test.py, fee beli 0,15% jual 0,25%). Syarat ditetapkan sebelum melihat hasil: total 5 tahun > beli & simpan dan menang ≥ 3 dari 5 tahun. Syarat stabil (lebih ketat): jadwal hari keputusan digeser 0–4 hari, syarat tetap terpenuhi di ≥ 3 dari 5 geseran.

Saham Model 5 th Beli & simpan Sistem standar Menang Stabil (geser) Hasil
ANTM +108,9% +62,7% −34,7% 3/5 3/5 (total +74% s/d +179%) lulus & stabil
BBCA +39,6% +12,1% −8,1% 3/5 1/5 ⚠️ lulus tapi tidak stabil
BBRI +24,5% +31,2% −18,3% 3/5 2/5
BBNI +57,4% +86,8% −5,7% 2/5 0/5
BMRI +26,3% +94,6% +30,1% 1/5 0/5
ASII +33,3% +38,7% +7,0% 2/5 0/5
TLKM −6,4% −2,5% −6,1% 3/5 3/5

ANTM per tahun (model vs beli & simpan): 2021–22 −10% vs −14% · 2022–23 +9% vs −5% · 2023–24 +30% vs −24% · 2024–25 +73% vs +165% · 2025–26 −5% vs −2%. Penurunan terdalam model jauh lebih kecil (mis. −7% vs −31%).

Kesimpulan & keputusan:


9g. Riset driver lanjutan untuk BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, ASII (15 September 2026)

Tujuan: mencari celah dengan cara yang jauh lebih luas, tanpa menipu diri sendiri.

Data & fitur: riwayat maksimal Yahoo (bank sejak 2003–2004, ±22 tahun), 81 calon faktor. Faktornya meliputi:

Protokol anti-kebetulan (dikunci sebelum melihat hasil):

Yang dicoba (±26 variasi):

Saham Hasil seleksi 2010–2021 Ujian akhir 2021–2026
BBCA tidak ada model yang lolos (beli & simpan +495% sulit dikalahkan)
BBRI ridge porsi 20 hari +22,6% vs +31,2%, menang 2/5 ❌
BMRI ridge 20 hari +76,9% vs +94,6%, menang 2/5 ❌
BBNI tidak ada
TLKM tidak ada
ASII ridge 20 hari (v2) / ridge 120 hari (v3) +43,6% vs +38,7% menang 4/5 tapi tidak stabil ⚠️ / −13,7% vs +38,7% ❌
Rotasi 4 bank terbaik +512% vs +263% (menang 9/11), tapi penurunan terdalam −54% vs −47% → tidak lolos

Catatan kejujuran:

Pelajaran:


9h. Simulasi Target Untung: jual begitu untung menyentuh target (18 September 2026)

Ide: tidak menunggu sinyal SELL. Tiap sinyal BUY beli $100, lalu jual begitu untung lot itu menyentuh target Rupiah tertentu. Dihitung per koin, bukan gabungan, dan lama tahan tiap lot dicatat.

Berapa target yang realistis? Diuji ke 2.038 lot (50 koin, ±5 tahun, fee 0,1%, modal $100/lot ≈ Rp1,77 juta):

Target = % modal Kena target Lama tahan (median) Untung per lot Total semua lot
Rp100 rb 6% 66% 4 hari −$0,32 −Rp11,4 juta
Rp200 rb 11% 56% 8 hari +$0,54 +Rp19,5 juta
Rp300 rb 17% 47% 13 hari +$0,86 +Rp31,3 juta
Rp500 rb 28% 37% 19 hari +$1,32 +Rp47,8 juta
Rp1 juta 56% 24% 35 hari +$3,39 +Rp122,6 juta
Rp1,5 juta 85% 18% 48 hari +$5,56 +Rp201 juta

Pelajaran utama: target kecil terasa paling nyaman (66% kena target, cuma 4 hari), tapi totalnya rugi. Untung dipotong kecil-kecil sementara yang rugi dibiarkan membesar sampai kena sinyal SELL. Makin besar target, makin jarang kena, tapi total untungnya makin besar. Rp300 ribu dipilih sebagai default: sudah untung, kena target 47%, dan median 13 hari, jadi masih terasa "cepat".

Aturan yang dipakai (engine/simulate_fast.py, menu admin Simulasi Target Untung):

Masuk lagi (re-entry) setelah jual. Pertanyaan berikutnya: kalau lot sudah dijual di target tapi sinyalnya masih BUY, apakah boleh beli lagi? Diuji di 50 koin:

Target Aturan Lot Kena target Median hari Total Untung per lot
Rp200 rb tunggu sinyal berubah 2.038 56% 8 +Rp19,5 jt Rp9.590
Rp200 rb masuk lagi (besoknya) 1.007 62% 7 +Rp35,3 jt Rp35.081
Rp300 rb tunggu sinyal berubah 2.038 47% 13 +Rp31,3 jt Rp15.339
Rp300 rb masuk lagi (besoknya) 853 53% 9 +Rp35,3 jt Rp41.371
Rp300 rb masuk lagi + jeda 1 hari 836 52% 10 +Rp32,5 jt Rp38.847
Rp500 rb tunggu sinyal berubah 2.038 37% 19 +Rp47,8 jt Rp23.475
Rp500 rb masuk lagi (besoknya) 700 40% 16 +Rp41,4 jt Rp59.078

Masuk lagi menang telak dari sisi efisiensi modal: lot yang dipakai kurang dari separuh, untung per lot 2,5x lipat. Jeda setelah jual justru merugikan, jadi aturannya: boleh beli lagi mulai hari berikutnya, maksimal 1 lot terbuka per koin (setelan fast_reentry). Di target besar (Rp500 rb ke atas) aturan lama menang di total, tapi hanya karena memakai modal 3x lebih banyak (lot menumpuk).

Cek target: penutupan atau harga tertinggi? Kalau target hanya dicek di harga penutupan harian, sistem sering menjual jauh di atas target (harga sudah terlanjur melonjak). Itu mengasumsikan kita memantau layar dan beruntung. Yang realistis adalah memasang limit sell di harga target, sehingga lot terjual begitu harga tertinggi hari itu menyentuh target, dan hasilnya persis target.

Cara cek Lot Kena target Rata-rata hari Total
Penutupan harian saja 945 464 (49%) 22 +Rp42,2 juta
Limit sell di harga target 1.102 637 (58%) 17 +Rp33,0 juta

Limit sell lebih sering kena target dan lebih cepat, tapi totalnya lebih kecil karena untung besar ikut terpotong di target. Angka limit sell inilah yang dipakai sistem (setelan fast_limit_sell), karena itu yang benar-benar bisa dijalankan tanpa memelototi harga: pasang limit sell (atau OCO bersama stop loss) segera setelah membeli.

Kalau modalnya terbatas. Simulasi di atas mengasumsikan semua sinyal bisa dibeli. Dengan modal nyata, jumlah lot yang berjalan bersamaan dibatasi. Uji 5 tahun (50 koin, target Rp300 rb, limit sell, masuk lagi):

Lot bersamaan Modal terpakai Transaksi selesai Sinyal terlewat Untung per tahun Imbal hasil
5 (≈Rp10 juta) Rp8,9 juta 239 8.148 Rp996 rb 11,2%/tahun
10 Rp17,7 juta 481 5.567 Rp2,16 juta 12,1%/tahun
20 Rp35,5 juta 787 2.273 Rp4,55 juta 12,8%/tahun

Pembanding: BTC beli & simpan periode yang sama = +10,0% per tahun. Jadi keunggulan strategi ini tipis (11–13% vs 10%), dan itu pun masih angka backtest. Menambah modal menaikkan untung rupiah hampir sebanding (karena sinyal yang terlewat sangat banyak), tetapi persentasenya tetap di kisaran yang sama.

Catatan bias: 50 koin yang diuji adalah Top 50 volume hari ini, jadi koin yang mati/delisting tidak ikut terhitung (survivorship bias). Hasil sesungguhnya kemungkinan lebih rendah.

Hasil historis dengan target Rp300 ribu + masuk lagi (945 lot, semua aset aktif): 464 lot kena target, 455 dijual karena sinyal SELL, 26 masih terbuka, total +Rp42,2 juta dengan modal jauh lebih sedikit dibanding aturan lama (2.299 lot, +Rp31,7 juta). Perhatikan: untung datang dari lot yang kena target, sedangkan lot yang keluar lewat sinyal rata-rata rugi dan ditahan jauh lebih lama.


10. Aturan main untuk pemula

11. Sumber belajar & data resmi